Home / BERITA TERKINI / DIALOG RAMADHAN DENGAN TEMA “KEDUNGPUJI MEMBANGUN DALAM TINJAUAN SYARIAH”

DIALOG RAMADHAN DENGAN TEMA “KEDUNGPUJI MEMBANGUN DALAM TINJAUAN SYARIAH”

Tahun 2015 : Saatnya Kantor Desa dan Masjid Sinergi
Sore (Sabtu, 7/7/2015) menjelang kaum muslimin Desa Kedungpuji Kecamatan Gombong yang sedang menjalani ibadah puasa mengakhiri hari ke-20 dengan berbuka puasa terjadilah sebuah kegiatan yang menarik.

Sekitar 50-an orang yang terdiri dari unsur pemdes, lembaga-lembaga desa, ketua takmir masjid-mushola dan para dai-daiyah serta tokoh-tokoh masyarakat se Kedungpuji hadir di Aula Kantor Desa dalam acara Dialog Ramadhan yang diadakan oleh pemdes setempat.

Tema yang diangkat dalam dialog tersebut adalah “Kedungpuji Membangun dalam Tinjauan Syariah” dengan nara sumber pada acara tersebut, Mustika Aji, S.Pd yang biasa dipanggil dengan sebutan Kang Aji.

Beliau merupakan seorang aktifis muslim yang banyak terlibat pada program-program advokasi desa di Kabupaten Kebumen. Bahkan sudah sering diundang untuk kegiatan-kegiatan serupa di beberapa wilayah di tanah air.

Pengantar dialog disampaikan oleh Bambang Purwanto, S.Ag. yang dikenal sebagai aktifis masjid yang merupakan moderator pada forum tersebut. Menurutnya selama ini istilah pembangunan sudah sangat akrab bagi masyarakat. Tetapi yang perlu dicermati apakah proses pembangunan tersebut betul-betul memberikan kemaslahatan bagi masyarakat? dibuktikan dengan peningkatan kesejahteraan atau justru yang terjadi sebaliknya. Bukan pembangunan tetapi perusakan.

Seperti yang disinggung dalam Al-Qur’an tentang pembangunan yang dilakukan oleh orang-orang munafik. Masih menurut Bambang di sinilah urgensi dan strategisnya pertemuan ini sebagai media komunikasi antara pemdes dan para aktifis masjid dan mushola. Sehingga situasi selama ini yang ditandai oleh tidak adanya kerja sama antara kantor desa dengan masjid-mushola bisa diakhiri.

Harapannya adalah dengan dialog tersebut dapat dijadikan sebagai langkah awal menyamakan persepsi dan merumuskan langkah-langkah yang sinergik bagi keberlangsungan pembangunan di Desa Kedungpuji. Sehingga pada saatnya “blue-print” dari kegiatan “mbangun desa” tersebut, dapat disepakati oleh semua elemen yang ada.

Bagi Mustika Aji sendiri ternyata dialog tersebut tidak seperti dialog-dialog yang selama ini pernah diikuti. Karena di sini bukan hanya mengarah pada usaha tata kelola pemerintahan yang baik tetapi ada perspektif yang luar biasa yakni bagaimana agar desa tidak hanya menjadi qoryah thayyibah saja tetapi juga diampuni dan diridhai oleh Allah.

Kang Aji juga mengingatkan bahwa rumusan dari langkah-langkah untuk mewujudkan hal tersebut dalam bentuk RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa). Karena dokumen tersebut September harus sudah jadi maka tinggal sekitar 2 bulan bagi pemdes untuk menyelesaikannya.

Untuk itu saran Kang Aji harus segera diadakan forum-forum di masyarakat oleh simpul-simpul yang ada termasuk oleh para aktifis masjid-mushola. Dari hasil pembahasan forum-forum tersebut kemudian diteruskan sebagai bahan masukan bagi tim perumus RPJMDes di tingkat desa. Sehingga “glontoran” dana ke desa sebagai konsekuensi UU No. 6 Tahun 2014 tentang desa bisa betul-betul dialokasikan untuk pembangunan baik fisik maupun non-fisik dengan maksimal.

Ternyata lontaran pemikiran dari Kang Aji sangat menarik. Dibuktikan oleh adanya beberapa peserta dialog sebagai penanggap. Misalnya Munarsis yang menanyakan bidang-bidang apa saja yang boleh dimasukkan untuk rencana pembangunan yang non fisik???

Pada sesi tanya jawab tersebut, Drs. Agus Mohammad Jumali, M.Pd. menanyakan tentang komitmen pemdes untuk serius dalam usaha pembangunan desa yang bisa menyelematkan masyarakat dari praktek budaya dan transaksi ekonomi yang bertentangan dengan syariah Islam misalnya perjudian.

Sementara itu, masukan dari Muchyani, A.Ma.Pd. ternyata selama ini sudah ada perhatian dari pemdes kepada TPQ dan kegiatan remaja masjid dibuktikan dengan ada bantuan dana dari desa. Soal apakah bantuan tersebut sudah proposional atau belum dia mengaku tidak tahu karena saat musrenbangdes tidak pernah diundang sebagai peserta.

Tampaknya masih banyak pertanyaan yang akan disampaikan oleh para peserta dialog akan tetapi karena terbatasnya waktu sehingga dicukupkan hanya satu termin saja. Salah satunya adalah apa kontribusi aktifis muslim dalam sejarah terbitnya UU No. 6 Tahun 2014 tentang desa itu ???.

Berdasarkan catatan Misbah Sukmadi dalam bukunya ADD (Alokasi Dana Desa) & Geliat Perjuangan Masyarakat Desa justru adanya regulasi yang mengamanatkan kepada negara untuk mengalokasikan dana ke desa dari APBN itu rintisannya bermula dari Kabupaten Kebumen.

Dalam kaitan ini tidak bisa dilupakan pelaku sejarah tersebut, yang notabene seorang warga Desa Kedungpuji yakni Dra. Sri Winarti, M.H. (Anggota DPRD Kebumen 1999 – 2004 dari Partai Bulan Bintang) yang telah ikut membidani lahirnya Perda No. 3 Tahun 2004 tentang Alokasi Dana Desa.

Karena beliau menjadi tokoh kunci bagi disahkannya raperda tersebut dalam sidang DPRD Kebumen. Seperti yang diuraikan oleh Misbah: “Beruntung masih ada Dra. Sri Winarti dari F-Reformasi, yang datang terlambat, yang pada saat-saat tergenting itu menegaskan bahwa fraksinya menolak penundaan dan meminta pada rekan-rekannya di DPRD Kebumen supaya Perda ADD disahkan sebelum pemilu.

Dengan sikap tegasnya itu maka aspirasi dari masyarakat desa (Raperda ADD) ini dapat diselamatkan”. Kini setelah beliau tidak lagi sebagai anggota dewan tetap berkarya dalam membangun kesalehan pribadi dan kesalehan sosial melalui Yayasan Bina Insani Kebumen.

Sebuah perubahan yang baik di desa akan terjadi jika komunikasi yang lancar antara pemdes dan pilar-pilar masyarakat yang ada khususnya para aktifis masjid-mushola terus digalang. Maka Dialog Ramadhan kiranya bisa dijadikan agenda tahunan untuk saling bertemu dan berbagi pemikiran.

Selain itu dapat di jadikan sebagai media komunikasi lainnya yang mingguan seperti mimbar Jumat saat para birokrat desa bisa mendengarkan khutbah. Dengan komunikasi yang terjalin maka seperti yang dikatakan Ibnu Khaldun solidaritas sosial, penguatan SDM dan jiwa optimis yang dibuktikan dengan kerja keras dapat diwujudkan.

Sehingga cita-cita menjadikan Desa Kedungpuji sebagai Qoryah Thayyibah wa Robbun Ghafur bukan isapan jempol belaka.

Intanshurulloha yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum. Allohu Akbar!!!

Kontributor : @MasPur
Editor : @SaifudinMaduGo

_______________________________________________________

Terima kasih telah berkunjung di Website Personal kami. Mohon berikan komentar Anda untuk meningkatkan kualitas berita kami.
Layanan Liputan : 081327736138 | Email: saifudinmadugo@yahoo.com

SAIFUDIN-23-1-1024x294

About saifudin

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Hii world…, Nama saya Sefudin, Manusia biasa dengan pengalaman biasa-biasa saja. Saya ingin belajar apa saja dari siapa saja. Saya lahir di desa Kebanggaan saya Kedungpuji, Gombong tepatnya tanggal 21 Februari 1985. Saya suka berkawan dengan siapa saja, terutama mereka yang terbiasa dengan kebiasaan aktivitas pendidikan dan sosial. Saya berusaha untuk belajar dari orang lain. Bagi saya semua orang adalah guru saya. Moto hidup saya adalah “Khairunnas Anfa’uhum Linnas” Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaat bagi orang lain. Silahkan berkunjung di Website saya di: www.saifudinmadugo.com | www.saifudincomputer.com | www.servicelaptoppanggilan.com atau blognya di: www.saifudin-madugo.blogspot.co.id Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita semua… untuk terus selalu memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar kita. Aamiin. Wassalamu'alaikum Wr. Wb. Regards Sefudin

Check Also

Apa sih printer multifungsi yang hemat dan bagus?

GOMBONG (wartagombong.com) – Saat ini memang banyak pilihan printer multifungsi atau istilah lain adalah printer …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *