Home / DESA KEDUNGPUJI / Khutbah Shalat Idul Fitri Tahun 1435 H, Masjid Nurul Falaah Kedungpuji, Gombong

Khutbah Shalat Idul Fitri Tahun 1435 H, Masjid Nurul Falaah Kedungpuji, Gombong

BERBEKAL FITRAH TEGAKKAN SYARIAH

Oleh : BAMBANG PURWANTO, S.Ag.

Ma’asyirol mu’minin wal mu’minaat raimakumullah

Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Alloh yang telah berkenan melimpahkan karunia kepada kita sehingga pada pagi ini kita dapat berkumpul untuk menyambut 1 Syawwal 1435 H dengan takbir, tahmid, dan tahlil. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw, keluarga dan para sahabat beliau serta para pengikutnya yang setia hingga akhir masa. Amin.

Hadirin jamaah shalat Id, rahimakumullah

Selanjutnya perkenankanlah saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan juga kepada pada hadirin. Marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Wasiat ini sangat tepat karena inilah hakikat tujuan kita menjalankan ibadah shaum sebulan penuh.

La’allakum tattaquun: “Agar kamu sekalian bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa”. Sehingga kita akan mendapatkan anugerah dari Allah yakni ‘Idul Fitri, ka waladatka ummuka, bagaikan engkau terlahir kembali dari perut ibumu. Suci bersih, tanpa noda dan dosa, menyenangkan dan menimbulkan rasa kasih sayang, senyum yang meneguhkan, tangisnyapun membuat hati iba dan bergetar….itulah bayi yang baru terlahir ke dunia…

Hadirin jamaah shalat Id, rahimakumullah.

Matahari yang terbit hari ini adalah matahari yang terbit pada tanggal 1 Syawwal tahun 1435 H atau tahun 2014 M. Satu kali ini saja ia datang, selama hayat kehidupan ini, ia tak akan datang lagi, dan ia juga belum pernah datang sebelumnya, ia akan menjadi saksi bagi amal perbuatan manusia semua. Seakan ia berseru kepada seluruh penduduk jagat ini:

Ya ma’syaron nas

Ana yaumul jadid……Fabi ‘amalika syahid. “Wahai manusia, aku adalah hari yang baru, yang akan menjadi saksi atas semua perbuatanmu.”

Hadirin jamaah shalat Id, rahimakumullah.

Sudah berpuluh kali Hari Raya Idul Fitri telah mendatangi kita, berbagai sikap telah ditampakkan untuk menyambutnya. Ada yang bersuka ria, dengan tawa dan canda, dunia cerah sewangi bunga mawar, segala nikmat ia rasakan, kemudian ia terkapar tidur bagaikan bangkai, karena kenyang makan sepuas diri tak peduli manusia di sekitarnya.

Ada juga yang sedih karena seakan dunia tak lagi ramah kepadanya, harta dan jabatan telah terlepas yang tinggal hanyalah puing ketamakan dan keangkuhan, seakan manusia sekeliling menatap kepadanya dengan tatapan yang mengejek dan menghina tak seperti tahun-tahun yang telah berlalu, ketika semua orang menunduk dan menghormat, ia sekarang terkulai oleh fatamorgana kehidupan. Itulah ghurur, kehidupan dunia yang menipu dan kita terperangkap olehnya.

Ada juga seorang hamba Allah yang ketika menghadapi 1 Syawwal, ia tunduk tawadhu’ dalam keharuan hati, menyesal karena tak bisa melakukan ibadah terbaik pada hari-hari di bulan Ramadhan yang ia harus segera berlalu menghadap kehadirat Ilahi, ia telah mencatat segala amal perbuatan kita dalam catatan yang amat kusam. Karena kita telah lalai dan terlena dalam senda gurau, hiruk pikuk kehidupan dunia yang menipu. Ya Allah Yang Maha Pengampun, kepada-Mulah aku mohon ampunan-Mu karena tak ada yang akan mengampuni kecuali Engkau.

Hadirin jamaah shalat Id, rahimakumullah.

Sebagaimana dijumpai dalam kehidupan masyarakat terdapat adat istiadat yang perlu dilestarikan karena itu adalah amalan kebaikan yang bisa membina kerukunan dan kedamaian masyarakat dan lingkungannya. Yaitu adat untuk saling memaafkan atas segala salah dan khilaf. Semua tak ada lagi yang merasa benar sendiri tapi menunjukkan kesalahannya agar bisa dimaafkan oleh orang lain. Gerakan apa yang bisa dilakukan agar manusia mau melakukan perbuatan seperti itu, semua itu adalah bagian dari berkah Idul Fitri.

Namun adat istiadat tersebut justru sekarang mulai tergeser oleh egoisme dan sikap acuh tak acuh serta merasa tak lagi punya salah dan khilaf. Semua itu adalah bagian dari suksesnya paham materialisme yang menjadi agama orang-orang yang mengaku sebagai manusia modern, karena dirinya mulai terkondisikan oleh alat-alat bermesin.

Ia menjadi kaku dan keras, sanggup bekerja keras namun harus dibayar dengan bensin dan solar. Kemana ia akan bekerja harus ada uang bensin dan solar, maka ia bagaikan mesin yang tak lagi punya hati nurani, maka ia merasa tak pernah punya salah dan khilaf karena ia hanya melakukan apa saja yang penting dapat imbalan. Na’udzubillah min dzalik.

Hadirin jamaah shalat Id, rahimakumullah.

Kita adalah manusia yang telah diciptakan Allah sebagai sebaik-sebaik ciptaan. ….”Kami menciptakan manusia dengan sifat yang paling baik”…. (Q.S. At-Tiin ayat 4). Kita tercipta sebagai makhluk yang mempunyai hati, mempunyai rasa takut dan berani, mempunyai rasa sedih dan bahagia, bisa merasa iba dan simpati. Kita bukanlah mesin robot yang hanya bisa berjalan kalau diisi bensin dan digerakkan. Tapi kita adalah manusia yang bisa tergerak karena kasih sayang dan pengabdian.

Kepada makhluk yang punya hati sajalah Allah memerintahkan untuk beriman dan bertaqwa. Karena monyet, anjing, dan babi tak pernah diperintahkan untuk mentaati perintah-perintah dalam syariat Allah. Karena penglihatan, pendengaran, dan perasaan mereka hanyalah insting untuk kehidupan kemudian mati menjadi tanah, mereka memang tercipta hanya sebagai bagian dari kehidupan ini. Tapi manusia akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan mahkamah Allah kelak karena ia mempunyai penglihatan, pendengaran, dan hati yang sempurna.

….mereka adalah orang-orang yang merugi., “Manusia dan jin yang banyak itu Kami sediakan untuk masuk neraka Jahanam. Penghuni neraka Jahanam ketika hidup di dunia mempunyai hati tetapi tidak mau memahami kebenaran, mempunyai mata tetapi tidak mau melihat kebenaran, mempunyai telinga tetapi tidak mau mendengar kebenaran. Mereka itu laksana hewan ternak,bahkan lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.” (Terjemah Q.S. Al-A’raf ayat 179).

Hadirin jamaah shalat Id, rahimakumullah.

Bersyukurlah karena kita masih diberi kehidupan oleh Allah. Oleh karenanya kita masih diberi kesempatan untuk bertaubat kepada-Nya. Jadikanlah sisa umur kita ini untuk bersyukur, dan bertaqarrub kepada Allah, mendekat menuju Allah…, merangkak, berjalan dan berlarilah kepada Allah karena Dia-lah tujuan kita, Allah Ghoyatuna.

Hadirin jamaah shalat Id, rahimakumullah.

Alloh telah mentaqdirkan kepada kita untuk melaksanakan puasa Ramadhan dan idul fitri tahun ini bertepatan dengan bulan Juli dan Agustus. Dengan fakta tersebut kita dapat sedikit merenung betapa kita diingatkan dengan tonggak-tonggak sejarah dalam perjalanan sebagai sebagai bangsa Indonesia.

Bulan Juli mengingatkan kita tentang Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang berimplikasi pada berlakunya Piagam Jakarta 22 Juni 1945 karena dalam Dekrit Presiden tersebut disebutkan “ Bahwa kami berkeyakinan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian-kesatuan dengan konstitusi tersebut”. Dan Bulan Agustus kita diingatkan dengan hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejarah umat Islam diwarnai oleh sebuah ikhtiar untuk menyesuaikan hidup dan kehidupannya dengan kehendak Allah Sang Penguasa Alam semesta. Hal tersebut terjadi karena bagi kaum muslim hidup adalah untuk beribadah kepada Allah. Secara luas pengertian ibadah adalah menegakkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan baik dalam lingkup individu maupun sosial.

Demikian pula sejarah umat Islam Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perjuangan penegakkan syariat Islam dalam lingkup negara. Langkah awal dari perjalanan tersebut dimulai dari konggres nasional SI tahun 1913 di Bandung. Hingga sekarang berarti sudah 100 tahun tuntutan Indonesia bersyariat tersebut tetapi belum terwujud dalam kehidupan masyarakat-negara.

Hadirin jamaah shalat Id, rahimakumullah.

Kita sangat sadar bahwa hanya dengan Islam ada kebaikan dan dengan menjauhi Islam akan muncul keburukan. Inilah yang telah diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya kepada kita. Ingatlah Rasulullah telah bersabda yang artinya : “Sesungguhnya dengan kitab ini (al-Qur’an) Allah mengangkat derajat beberapa kaum dan merendahkan kaum lainnya”. (HR. Muslim).

Khalifah Umar bin Khatthab ketika sedang berkuasa, berwasiat kepada sahabat-sahabat Nabi yang mulia, dia berkata, yang artinya : “Dahulu kami adalah bangsa yang hina, lalu Allah memuliakan kami dengan Islam. Karena itu, manakala kalian mencari kemuliaan dengan selain Islam , niscaya Allah akan menghinakan kalian kembali”.

Dan ini pula yang telah dipahami oleh para pejuang muslim di tanah air sebelum kita. Terbukti ketika memproyeksikan perkembangan di masa depan tentang Indonesia Merdeka, Natsir bertanya apakah setelah Indonesia merdeka tujuan orang Islam sama dengan tujuan orang nasionalis yang netral agama. Menurutnya :

Tujuan kaum Muslimin mencari kemerdekaan untuk kemerdekaan Islam, supaya berlaku peraturan dan susunan Islam, untuk keselamatan dan keutamaan umat Islam khususnya, dan segala makhluk Allah umumnya.

Adakah ini juga tujuan dan cita-cita mereka itu? Mereka yang dari sekarang sudah menyatakan sikap netral kepada agama, yang dari sekarang sudah meremehkan tak mau campur dalam segala urusan yang berbau Islam.”

Hadirin jamaah shalat Id, rahimakumullah

Kita hidup di negara pluralis yang dibebaskan manusia beramal sholeh tetapi juga bebas untuk beramal salah, bermaksiat bahkan perbuatan menentang hukum Allah juga bebas dilakukan. Oleh karenanya sudah menjadi keharusan bagi kita untuk melanjutkan perjuangan penegakkan syariat tersebut.

Dengan bersama-sama melaksanakan konsep pemberdayaan masyarakat berbasis masjid. Jadikan masjid sebagai pusat peradaban Islam. Marilah kita kelola masjid kita dengan prinsip-prinsip partisipatif, transparansi, dan akuntabilitas publik. Kita jadikan masjid untuk melayani jamaah untuk beribadah secara aman dan nyaman, sebagai tempat peningkatan keilmuan Islam dan pengkaderan untuk kelompok anak-anak dan remaja. Kita berdayakan masyarakat dengan medium masjid baik aspek sosial ekonomi, politik maupun budayanya. Dan terakhir kita wujudkan lingkungan masjid yang bersih dan indah.

Terkait dengan usaha menjadikan masjid sebagai pusat peradaban Islam maka pendapat Prof. Dr. Didin Hafiduddin perlu dipertimbangkan ;

  1. Menyelenggarakan kajian keislaman yang teratur dan terarah untuk pembentukan pribadi muslim, keluarga muslim dan masyarakat muslim. Di samping materi al-Qur’an, al-hadits, Fiqh Ibadah, Akhlak perlu disampaikan materi Sejarah Nabi Muhammad Saw.
  2. Memaksimalkan pelaksanaan khutbah Jumat baik menyangkut materi maupun khatibnya. Karena khutbah Jumat merupakan media pembinaan jamaah yang cukup efektif.
  3. Melaksanakan diskusi-diskusi tentang masalah-masalah aktual.
  4. Mengefektifkan pelaksanaan zakat, infak dan sodaqoh baik dalam cara memungutnya maupun cara membaginya.
  5. Di samping dakwah billisan, perlu mendapatkan perhatian adalah dakwah bilhal seperti santunan dan juga dakwah bilqolam seperti mendirikan taman bacaan ataupun perpustakaan masjid.

Hadirin jamaah shalat Id, marilah kita akhiri khutbah ini dengan pembacaan doa. Semoga kita bisa tetap mempertahankan kemenangan yang telah kita raih di bulan Ramadhan. (SaifudinMDG)

_______________________________________________________

Terima kasih telah berkunjung di Website Personal kami. Mohon berikan komentar Anda untuk meningkatkan kualitas berita kami.
Layanan Liputan : 081327736138 | Email: saifudinmadugo@yahoo.com

SAIFUDIN-23-1-1024x294

About saifudin

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Hii world…, Nama saya Sefudin, Manusia biasa dengan pengalaman biasa-biasa saja. Saya ingin belajar apa saja dari siapa saja. Saya lahir di desa Kebanggaan saya Kedungpuji, Gombong tepatnya tanggal 21 Februari 1985. Saya suka berkawan dengan siapa saja, terutama mereka yang terbiasa dengan kebiasaan aktivitas pendidikan dan sosial. Saya berusaha untuk belajar dari orang lain. Bagi saya semua orang adalah guru saya. Moto hidup saya adalah “Khairunnas Anfa’uhum Linnas” Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaat bagi orang lain. Silahkan berkunjung di Website saya di: www.saifudinmadugo.com | www.saifudincomputer.com | www.servicelaptoppanggilan.com atau blognya di: www.saifudin-madugo.blogspot.co.id Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita semua… untuk terus selalu memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar kita. Aamiin. Wassalamu'alaikum Wr. Wb. Regards Sefudin

Check Also

Heboh!! Sambut Kemenangan, Takbir Keliling ramaikan Desa Kedungpuji

GOMBONG (NurfalNews) – Merayakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 Hijriyah yang jatuh pada hari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *